Di malam itu aku mulai beranjak dari rutinitas menuju ke
tempat istirahat, namun semua tempat sudah penuh ditempati keluargaku dan aku
pun dengan terpaksa tidur di sebuah celah sempit disamping mereka. Sebenarnya
aku dimarahi ibuku untuk pindah ke kamar ibu namun aku sudah terlelap dalam
tidurku. Keesokkan harinya aku sakit panas dan batuk padahal hari – hari sebelumnya
aku tidak merasakan gejala akan menderita sakit. Pada saat itu aku terpaksa
tidak masuk sekolah karena kondisiku dan langsung menuju rumah sakit untuk cek
kesehatan. Pada hasil tes pertama tidak ada indikasi penyakit yang berbahaya
hanya kecapekan biasa, namun panasku tidak kunjung sembuh. Akhirnya aku menuju
rumah sakit lain, namun hasil yang tidak terduga menimpaku, aku positif
menderita demam berdarah dan terpaksa harus rawat inap dirumah sakit itu. Hari
pertama aku tidak bisa tidur karena belum terbiasa dengan lingkungan disana.
Panasku
tidak kunjung turun, namun aku juga tidak memiliki selera makan, lidahku seperti
mati rasa hidungku pun merasakan hal yang sama, tidak enak menghirup bau
makanan apapun. Hari demi hari aku lewati dirumah sakit itu, hanya ibu dan
nenekku yang menemaniku, terkadang juga ada kakekku dan juga terkadang aku
sendiri. Ayahku sibuk ke luar kota namun beliau juga menyempatkan diri untuk
mengunjungiku dan menanyakan bagaimana kabarku. Tapi hal yang paling tidak
pernah aku bayangkan adalah teman-teman dan guru-guru sekolahku tidak ada yang
menjengukku atau bahkan sekalipun mencari informasi tentang diriku yang tidak
masuk sekolah. Seakan aku tak pernah sekelas bahkan sekolah ditempat aku
sekolah, entah aku memang dianggap ada atau mereka sudah melupakanku, aku hanya
bisa meratapi nasib.
Minggu
pun berganti namun kondisiku tidak menunjukan kemajuan yang bearti, malah turun
derastis. Sampai – sampai tangan kiriku bengkak karena terlalu lama terkena
infus, dan akhirnya pindah ke tangan kananku. Pahitnya makanan, minuman, buah
yang manispun menjadi pahit aku rasakan disini dan bagaimana pahitnya rasa
sakit. Pada saat itu aku ingin mati saja dari pada hidup ini yang tidak berarti
bagi semua.
Pada
suatu hari ada check up kesehatan, namun hal yang mengejutkan menimpaku
belum lepas dari demam berdarah aku dinyatakan positif menderita tifus. Ah…. Lengkap
sudah kurasa hidupku yang tak ada indahnya ini, matipun aku mau fikirku saat
itu. Keluargaku seakan tak percaya apa yang terjadi padaku, terlebih ibuku yang
sampai menitikkan air mata. Aku pun tak percaya itu pertama kalinya aku membuat
ibuku menangis dan terlebih menangis karena aku. Sudah seminggu sejak aku masuk
rumah sakit ini namun tidak ada kabar menggembirakan sedikitpun dari
kesehatanku yang ada malah kesehatanku semakin turun dan hal yang mengejutkan
lagi ketika aku cek darah, cek darah adalah rutinitasku sehari-hari selama
berada disini, tapi hari ini ada yang lain dokter tidak memberitahukan hasil
cek darah kepada ibuku yang hari-hari sebelumnya dokter selalu memberi hasil
cek darah kepada ibuku. Suatu hal tak terduga yang terjadi adalah trombosit
dalam darahku tinggal 10 dan aku langsung dibawa ke ruang ICCU saat itu juga.
Dua infus ditancapkan dikedua tanganku dan setiap 10 menit infus itu dinganti
dengan yang baru. Aku fikir inilah akhirku, tiga hari aku di ruang ICCU sudah
ada tiga orang disamping kiri dan kananku yang meninggal dunia, aku pun mulai
pesimis akan hidupku, dan yang paling membuat aku tambah pasrah adalah ada
pasien yang menderita gagal ginjal yang meninggal dunia, pasien itu masih kecil
kelas 6 SD (Sekolah Dasar) dan sebelum sakit gagal ginjal dia menderita
penyakit yang sama dengan aku, demam berdarah.

Cerita lama broooo -_-
ReplyDeleteemang gak boleh ?
ReplyDeleteAlaaayyyyy wekkk...
ReplyDelete