Breaking News

Saturday, March 22, 2014

Kelabu Hidup Di Masa Suram

Di malam itu aku mulai beranjak dari rutinitas menuju ke tempat istirahat, namun semua tempat sudah penuh ditempati keluargaku dan aku pun dengan terpaksa tidur di sebuah celah sempit disamping mereka. Sebenarnya aku dimarahi ibuku untuk pindah ke kamar ibu namun aku sudah terlelap dalam tidurku. Keesokkan harinya aku sakit panas dan batuk padahal hari – hari sebelumnya aku tidak merasakan gejala akan menderita sakit. Pada saat itu aku terpaksa tidak masuk sekolah karena kondisiku dan langsung menuju rumah sakit untuk cek kesehatan. Pada hasil tes pertama tidak ada indikasi penyakit yang berbahaya hanya kecapekan biasa, namun panasku tidak kunjung sembuh. Akhirnya aku menuju rumah sakit lain, namun hasil yang tidak terduga menimpaku, aku positif menderita demam berdarah dan terpaksa harus rawat inap dirumah sakit itu. Hari pertama aku tidak bisa tidur karena belum terbiasa dengan lingkungan disana.

Panasku tidak kunjung turun, namun aku juga tidak memiliki selera makan, lidahku seperti mati rasa hidungku pun merasakan hal yang sama, tidak enak menghirup bau makanan apapun. Hari demi hari aku lewati dirumah sakit itu, hanya ibu dan nenekku yang menemaniku, terkadang juga ada kakekku dan juga terkadang aku sendiri. Ayahku sibuk ke luar kota namun beliau juga menyempatkan diri untuk mengunjungiku dan menanyakan bagaimana kabarku. Tapi hal yang paling tidak pernah aku bayangkan adalah teman-teman dan guru-guru sekolahku tidak ada yang menjengukku atau bahkan sekalipun mencari informasi tentang diriku yang tidak masuk sekolah. Seakan aku tak pernah sekelas bahkan sekolah ditempat aku sekolah, entah aku memang dianggap ada atau mereka sudah melupakanku, aku hanya bisa meratapi nasib.

Minggu pun berganti namun kondisiku tidak menunjukan kemajuan yang bearti, malah turun derastis. Sampai – sampai tangan kiriku bengkak karena terlalu lama terkena infus, dan akhirnya pindah ke tangan kananku. Pahitnya makanan, minuman, buah yang manispun menjadi pahit aku rasakan disini dan bagaimana pahitnya rasa sakit. Pada saat itu aku ingin mati saja dari pada hidup ini yang tidak berarti bagi semua.

Pada suatu hari ada check up kesehatan, namun hal yang mengejutkan menimpaku belum lepas dari demam berdarah aku dinyatakan positif menderita tifus. Ah…. Lengkap sudah kurasa hidupku yang tak ada indahnya ini, matipun aku mau fikirku saat itu. Keluargaku seakan tak percaya apa yang terjadi padaku, terlebih ibuku yang sampai menitikkan air mata. Aku pun tak percaya itu pertama kalinya aku membuat ibuku menangis dan terlebih menangis karena aku. Sudah seminggu sejak aku masuk rumah sakit ini namun tidak ada kabar menggembirakan sedikitpun dari kesehatanku yang ada malah kesehatanku semakin turun dan hal yang mengejutkan lagi ketika aku cek darah, cek darah adalah rutinitasku sehari-hari selama berada disini, tapi hari ini ada yang lain dokter tidak memberitahukan hasil cek darah kepada ibuku yang hari-hari sebelumnya dokter selalu memberi hasil cek darah kepada ibuku. Suatu hal tak terduga yang terjadi adalah trombosit dalam darahku tinggal 10 dan aku langsung dibawa ke ruang ICCU saat itu juga. Dua infus ditancapkan dikedua tanganku dan setiap 10 menit infus itu dinganti dengan yang baru. Aku fikir inilah akhirku, tiga hari aku di ruang ICCU sudah ada tiga orang disamping kiri dan kananku yang meninggal dunia, aku pun mulai pesimis akan hidupku, dan yang paling membuat aku tambah pasrah adalah ada pasien yang menderita gagal ginjal yang meninggal dunia, pasien itu masih kecil kelas 6 SD (Sekolah Dasar) dan sebelum sakit gagal ginjal dia menderita penyakit yang sama dengan aku, demam berdarah.


Aku hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi pada diriku, namun pada hari ketiga aku di ruang ICCU ibuku menyuapiku dengan buah naga, entah apakah ini adalah obat yang paling ampuh bagiku, setelah selesai memakan buah itu aku langsung terlelap dalam tidurku, aku rasa akhirnya aku bisa tidur dengan lelap tanpa ada yang bisa membangunkanku lagi. Namun aku terkejut ketika ada orang yang menciumi keningku sembari menitikkan air mata dan aku terbangun, ternyata ayahku yang datang menjengukku. Ayahku mengira bahwa aku telah tiada dan beliau mengira aku mengalami pendarahan dibagian mulutku. Aku tidak tahu apakah itu titik balikku dari hidupku, seakan aku baru lahir didunia ini seakan aku hidup untuk kedua kalinya. Sama seperti bayi yang baru lahir aku hanya bisa terbaring lemah tanpa bisa menggerakkan tangan dan kaki seperti biasanya, duduk pun tidak seimbang dan kepala pusing. Seperti inikah ampuhnya do’a seorang ibu untuk anaknya, atau seperti inikah perjuangan seorang ayah untuk kesembuhan anaknya. Dan entah ada gempa atau angin dari mana, satu persatu guru sekolahku datang untuk menjengukku, aku semakin bersemangat untuk lekas sembuh dan mulai menghargai apa yang disebut hidup. Setelah tiga hari aku dipindahkan kembali ke ruang inap pavilion sebelumnya, teman-teman ayahku banyak yang menjengukku, tetangga-tetangga pun demikian halnya. Pernah sekali keluargaku menginap dirumah sakit, serasa mereka tidak mau melepasku dari genggaman mereka. Semangat hidup pun kembali lagi padaku, seakan aku ingin segera sembuh dari penyakit ini dan melupakkannya. Kondisiku mulai membaik dan aku pun mulai bisa merasakan makanan favoritku namun aku masih tidak boleh makan makanan yang pedas karena aku masih menderita penyakit tifus. Setelah beberapa hari aku mulai belajar duduk meskipun sulit namun aku harus mencobanya. Akhirnya aku diperbolehkan pulang setelah aku bisa duduk dengan normal, setibanya dirumah air mata pecah dari keluargaku terlebih nenekku, aku dipeluk dan dicium seakan beliau pernah sekali kehilangaku dari dunia ini dan beliau tidak ingin kehilangan aku lagi. Namun setelah itu hanya ada cerita-cerita bahagia yang diceritakan seakan mereka melupakan apa yang pernah terjadi padaku. Kenanggan masa suram yang aku alami serasa terhapus oleh canda tawa mereka, meresap kedalam hati unuk mempercepat kesembuhanku. Meskipun aku sudah pulang dari rumah sakit tapi aku harus tetap meminum obat dari dokter agar kesehatanku tidak down lagi. Berada dirumah sakit hampir dua minggu membuatku merasa asing dirumah sendiri dan aku tidak bisa tidur, seolah ada yang selalu menjagaku di sebelah kiri dan kananku, aku tidak tahu apa itu namun itu membuatku nyaman. Sesuatu hal yang tidak bisa aku pahami adalah setelah saat itu aku serasa memiliki dua kepribadian yang berbeda, dimana aku bisa serasa seperti seorang anak-anak yang baru lahir, dan disaat yang lain aku bisa menjadi seseorang yang sangat dewasa.

3 comments:

Designed By VungTauZ.Com